Saat Basti Reses, Warga Mengeluh Pengelolaan Sampah yang Menganggu
Sekretaris Komisi A DPRD Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Basti
POSKOTAKALTIMNEWS.
COM, KUTAI TIMUR-
Sekretaris Komisi A DPRD Kabupaten Kutai
Timur (Kutim) dari Partai Amanat Nasional (PAN), Basti Sangga Langi, mendapat
keluhan dari masyarakat tentang pengelolaan sampah selama masa reses.
Khususnya, ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pengelolaan sampah
di daerah kanal satu yang terletak di belakang Pasar Induk, Sangatta, Kutai
Timur.
Menurut Langi, pengelolaan sampah di daerah
tersebut sangatlah buruk. Dokumen pengelolaan sampah tidak ditemukan, dan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) tidak ada. Ia menekankan pentingnya
memperbaiki kondisi pengelolaan sampah di PTSP di Carikan, yang telah
mengganggu kenyamanan masyarakat setempat.
"Pengelolaan sampah tidak memiliki
dokumen, AMDAL tidak ada dan dukomen lain," ungkap Basti , Senin (8/5/2023).
Basti juga mengungkapkan bahwa pengelolaan
sampah di daerah tersebut hanya berhasil mengumpulkan 30 ton dari total 50 ton
sampah yang dihasilkan. Selain itu, jarak terlalu dekat dengan permukiman, yaitu
hanya sekitar 20 meter saja.
Namun, Basti mengungkapkan bahwa pihaknya
telah mengambil tindakan untuk mengatasi masalah tersebut. Ia telah
menyampaikan keprihatinan mereka kepada Bupati Kutim dan telah menerima respons
positif dari pihak tersebut.
"Sudah kami sampaikan kepada Bupati dan
Alhamdulillah ada respon," terangnya.
Selain itu, Langi juga telah melakukan
inspeksi ke ruangan pengolahan sampah untuk mengetahui secara langsung kondisi
pengelolaan sampah di Kutim. Ia berharap bahwa pihak terkait dapat memperbaiki
kondisi tersebut sehingga dapat mengurangi dampak negatifnya pada lingkungan.
"Masyarakat sangat terganggu dan sangat
menggangu pemukiman masyarakat. Pengelolaan sampah ini tidak berhasil,"
ujarnya.
Basti
menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan tepat guna dalam
mencegah bencana banjir. Ia berharap bahwa tindakan yang diambil oleh pihak
terkait dapat meningkatkan kualitas pengelolaan sampah di Kutim dan mengurangi
dampak negatif pada lingkungan dan masyarakat setempat.
"Saya sudah sidak, masuk ke dalam
pengelolaan sampah, dan sangat bau. Menurut saya tidak layak dan gagal,"
tandasnya.(ADV)